Dua Cawan

Author : Aloisius Kevin

“Tahun baru adalah awal yang baru. Awal baru berarti berkat yang baru pula.”
Meminta berkat bisa dibilang sebagai salah satu hal yang kita sukai. Dan tentunya, hal tersebut merupakan daftar wajib di tahun baru. Namun yang bikin saya bingung, saya mau minta apa?
Akhirnya saya biarkan Tuhan yang memimpin saya untuk meminta. Dan saya meminta agar saya semakin mengenal dan mendekat kepada-Nya di tahun baru ini. Sekedar info: perlu loh, meminta Tuhan untuk membimbing kita dalam doa. Dan... Singkat kata, Dia mendengar doa saya.


Beberapa hari yang lalu, saya diminta untuk menjalankan sesi doa malam selama 1 minggu, mendoakan hal-hal yang Ia perintahkan kepada saya dan topiknya selalu beda-beda. Pada malam ketiga, ketika saya diminta berdoa untuk negara-negara di dunia, saya diberi sebuah pengelihatan yang familier.
Pengelihatan tersebut adalah cawan doa yang disediakan Tuhan untuk menyelamatkan Indonesia. Ini pernah digembar-gemborkan pada awal tahun 2011. Jadi, pada waktu itu anak-anak Allah diminta berdoa bagi keselamatan Indonesia, yang notabene sudah diincari si jahat untuk dihancurkan. Dan yang luar biasanya, ini semua digagalkan oleh Tuhan. Dan saya yakin, hanya karena kebaikan-Nya sajalah kita masih bisa hidup sekarang ini.

Kembali ke pengelihatan yang Tuhan berikan. Saat itu saya melihat dua buah cawan. Kedua cawan tersebut punya bentuk yang sama, terbuat dari emas dengan ukiran-ukiran rumit, dan berhiaskan semacam berlian hijau berbentuk elips. Di cawan pertama, yang akan saya sebut sebagai cawan doa, diisi oleh sesuaut yang terlihat seperti bulir-bulir berwarna putih. Jumlahnay sangat sedikit sekali, bahkan bisa dibilang tidak sampai 1/8 bagian. Sementara di cawan kedua, diisi oleh bulir-bulir hitam. Dan jumlahnya sangat banyak, bahkan sampai tumpah sana-sini.

Ketika doa selesai, saya pun bertanya kepada Tuhan mengenai artinya. Hikmat pun mengambil bagiannya. Kedua cawan itu adalah cawan Allah. Cawan yang pertama berisi doa-doa bagi perubahan, pertobatan, dan penyelamatan Indonesia. Sementara cawan kedua berisikan tuntutan-tuntutan si Iblis untuk menchancurkan Indonesia karena dosa-dosanya.
Saya, dengan perasaan setengah kaget, langsung melompat dari ranjang. Tuhan pun kembali memberikan pengelihatan.

Kali ini, pengelihatan difokuskan kepada isi yang ada di dalam cawan tersebut. Ternyata, bulir-bulir yang saya lihat di cawan doa adalah surat-surat kecil yang saling terhubung sati sama lain. Ia memberi pengertian: bulir-bulir ini adalah simbol doa-doa kita bagi Indonesia kepada-Nya. Sementara bulir-bulir hitam di cawan murka adalah surat-surat tuntutan si jahat yang mengklaim bahwa Indonesia adalah miliknya.

Tuhan kemudian segera berkata, “Aku mau agar kalian, anak-anak-Ku, mengisi cawan Allah yang pertama—cawan doa bagi Indonesia. Dengan demikian, Indonesia—bahkan dunia—bisa terselamatkan dan diubahkan.”

Woow... Saya sungguh terkejut saat mendengarnya. Saya tahu ini bukan hal yang mudah. Kita harus berpacu dengan waktu dan bersaing dengan cawan tuntutan si jahat yang berniat buruk bagi Indonesia. Apalagi dengan keadaan cawan doa kita yang ‘miris’...  Dalam arti kalah jauh dari isi cawan murka...
Namun, apakah yang mustahil bagi Tuhan jika kita mau melakukan yang terbaik bagi Dia?


Esok siangnya.
Saat saya hendak pulang dari kuliah, saya kembali bertanya-tanya dengan Tuhan, “Sebenarnya berapa besar sih cawan doa yang Anda berikan bagi kami? Seberapa besar cawan yang harus kami isi?”
Seketika itu juga Ia kembali menjawab dengan pengelihatan. Saya melihat cawan yang seperti kemarin, tapi kali ini dengan Bumi di dalamnya. Itu seperti sebuah scoop es krim besar yang ditaruh ke dalam gelas.

Saya langsung lemas begitu paham... Bahwa sebenarnya tugas anak-anak Allah sama sekali tidak mudah! Bayangkan saja, kita harus mengisi begitu banyak porsi sampai bumi mampu masuk ke dalamnya!!!
Malam harinya, pada sesi doa berikutnya, saya diberikan 2 pengelihatan lagi.

Yang pertama, cawan doa tersebut sekarang sudah terisi 1/3 bagian! Dan Ia memberikan saya sebuah janji: “Cawan itu akan mencapai level tersebut di akhir bulan ini, jika semua anak-anak-Ku berdoa untuk mengisinya.”

Saya, yang tadinya masih lemas, langsung bersemangat dan senyam-senyum.

Pengelihatan kedua. Saya melihat cawan doa yang sudah mencapai level ½ dari ketinggiannya! Namun ada yang janggal... saya seperti melihat cawan tersebut menjadi transparan dan melihat di antara surat-surat putih tersebut, ada surat-surat hitam! Surat-surat hitam tersebut justru menghancurkan surat-surat putih dan menyebabkan ada kekosongan di tengah cawan doa tersebut.
Saya segera meminta keterangan dari Tuhan. “Tuhan! Itu tadi apa? Kok cawannya jadi kosong di tengah-tengah gitu?”

Itu kutuk-kutuk yang dilepaskan manusia, yang bekerja bagi musuh-Ku. Kamu jangan lupa, anak-Ku... Bukan Cuma Aku yang menginginkanmu, namun juga si jahat yang setiap hari menginginkanmu. Jika Aku tidak melindungimu, pasti kamu tidak akan selamat sekarang.”

Terus kok efek kutuknya bisa gede banget?” tanya saya lagi. “Sampai bisa bikin doa kami bolong...”

Simpel. Mereka melempar kutuk lebih giat dibanding kamu berdoa.”

Aw. “Sebegitu parahkah, Lord? Maap, maap.”


Saudara-saudara, saya tidak membuat surat ini untuk menakut-nakuti Anda sekalian. Namun agar kita semua lebih sadar akan tugas kita sebagai anak-anak Allah di dunia gelap ini. Tugas kita sebenarnya simpel. Tuhan juga sudah membuka jalan bagi kita. Tinggal kitanya saja yang mau jalan atau tidak.
Kalau kita yang tinggal di Indonesia saja malas merawat rumah sementara ini, bagaimana bumi bisa ‘dipanen’? Yah, saya tidak akan memaksa Anda untuk berdoa. Saya hanya akan bertanya, “Apa salahnya berdoa?”
Sebuah doa tidak akan memakan waktu seperti masa-masa tutup buku seorang akuntan, kan? Lagipula itu juga untuk kebaikan kita sendiri...
Tidak usah pentingkan kita dari suku mana, daerah mana, ras mana, golongan mana... Anda juga tidak usah khawatir dengan cara berdoa. Berdoalah sesuai dengan hati Anda dan mintalah bimbingan Roh Kudus. Sebuah doa tetaplah sebuah doa juka Anda bersungguh-sungguh meminta Tuhan membimbing Anda. Sekali lagi, pilihan ada di tangan kita masing-masing.